Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label tentang cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang cinta. Tampilkan semua postingan

Cinta Laksana Api






Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! (Kidung Agung 8:6)

Kidung Agung barangkali adalah buku yang paling “duniawi” dan manusiawi dalam Alkitab. Banyak orang tak kunjung paham mengapa buku puisi tentang cinta asmara sepasang anak manusia ini harus dimasukkan sebagai bagian Kitab Suci. Isinya sama sekali tak menyinggung pekerjaan atau perkataan Tuhan namun melulu hanya berisi pujian, ungkapan rindu, kegelisahan, dan juga birahi manusia yang sedang kasmaran.

Pertama-tama baiklah kita memahami Tuhan Allah menciptakan kita sebagai manusia yang utuh, yang memiliki kebutuhan dan keinginan psikis selain fisik. Ya, kita butuh dan ingin mencintai-dicintai, memiliki-dimiliki. Kita juga memiliki ketertarikan dan hasrat seksual yang melekat dalam diri kita. Semua itu adalah anugerah Tuhan kepada kita yang sebaiknya kita terima saja dengan syukur dan gembira.

Pengalaman kita khususnya pada masa muda menunjukkan bahwa apa yang diungkapkan oleh Kitab Kidung Agung sungguh-sungguh faktual dan wajar. Perasaan cinta itu memang sangat kuat. Cinta sering laksana api yang dapat membakar dan menghanguskan diri kita. Cinta sering mendorong seseorang melakukan hal-hal yang sulit dan muskyil, melampaui pertimbangan akal, nekad atau bahkan dianggap konyol oleh orang lain yang tak merasakannya. Karena dipenuhi dan dikuasai cinta, seseorang kadang rela memberikan dan melepaskan segalanya, hanya untuk demi seseorang. Cinta bisa membuat orang tidak tidur, meriang, enggan makan, atau mengigau. Sebaliknya cinta juga bisa membuat orang begitu bahagia dan berbinar, menulis puisi, belajar dan bekerja lebih rajin. Sebab itu orang berkata tentang “mabuk cinta”, “tergila-gila”, atau “sakit asmara”.

Kuatnya perasaan cinta asmara itu dilukiskan oleh penggubah Kidung Agung seperti maut. Maksudnya bisa membuat manusia tidak berkutik, menyerah dan pasrah. Atau laksana api yang membakar dan menghanguskan. Bahkan seperti nyala api Tuhan. Di satu sisi baiklah kita menghayati kekuatan cinta yang luar biasa ini dengan gembira dan takjub, sebagai misteri yang dianugerahkan Allah kepada kita manusia. Cinta itulah yang membuat kita sungguh-sungguh hidup sebagai manusia. Namun di pihak lain, apa yang diungkapkan penulis Kidung Agung ini mengajak kita sadar, siaga dan waspada, sebab cinta asmara itu bisa juga mencelakakan, menyengsarakan dan bahkan mendorong kita melakukan kesalahan yang biasanya baru disadari di hari kemudian. Tuhan juga menganugerahkan kita akal budi dan hati nurani, dan sebagai seorang manusia yang percaya kepada Tuhan kita tetap harus beriman, bermoral dan rasional. Itu artinya betapa pun hebat dan kuatnya cinta itu, kita harus tetap setia kepada Tuhan, memakai akal dan pertimbangan, serta mendengar hati nurani.

Hidup ini tidak semata-mata urusan cinta atau asmara. Selain bercinta atau berasmara-ria kita juga harus belajar, bekerja, bersosial dan berbudaya. Sebab itu kita tidak bisa mengabaikan tugas dan tanggungjawab kita sehari-hari demi cinta. Selanjutnya semakin dewasa kita diajak semakin memurnikan dan merohanikan cinta asmara itu, menemukan makna dan hikmat, dan menjadikan cinta asmara itu sebagai perlambang hubungan kita yang sangat intim, intens dan selalu bergairah dengan Allah Pencipta kita.

Doa:

Ya Allah, terima kasih Engkau menganugerahkan cinta yang begitu besar dan menyala-nyala, atau meluap-luap, kepada orang-orang muda. Kami menerima hasrat cinta dan seksualitas kami sebagai anugerah Tuhan yang sangat mulia dan indah kepada kami manusia. Sertailah anak-anakMu merayakan cinta masa muda mereka, dan tolonglah mereka untuk tetap siaga, sadar dan waspada, agar tidak melakukan kesalahan atau kebodohan yang kelak bakal menjadi penyesalan. Bagi kami yang sudah semakin dewasa, tolong jugalah kami memelihara api cinta kami, agar kami tetap bergairah dan bersemangat dalam hidup ini. Di atas semua ini biarlah kami memakai kekuatan cinta ini untuk menjadi pelajaran yang menjadikan kami lebih arif dan baik. CintaMu abadi dan agung, dan Engkaulah yang paling setia kepada kami, kepadaMulah kami menyerahkan seluruh hidup kami dalam Yesus.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

cinta, kuasa dan kekuasaan

ANYAK orang berkata dan meyakini bahwa dirinya mencintai orang lain. Pecinta mengatakan bahwa dirinya mencintai kekasihnya. Suami mengatakan bahwa ia mencintai istrinya. Guru-guru mengatakan bahwa mereka mencintai murid-muridnya. Para orangtua mengatakan bahwa mereka mencintai anak-anaknya. Dan negara juga mengatakan bahwa ia sangat mencintai rakyatnya.

Sampai sekarang, kita tidak tahu apa arti sesungguhnya dari kata cinta dan mencintai. Para filsuf menafsirkan dan menjelaskannya dengan berbelit-belit, yang justru membuat kita kebingungan. Maka tidak heran jika kemudian setiap orang memilih untuk menafsirkan sendiri kata tersebut. Dengan cara itu, setia orang punya penafsiran sendiri tentang cinta, tanpa harus terkungkung oleh logosentrisme definisi cinta yang dibuat oleh mereka kaum intelektual.

Dari common-sense masyarakat, cinta dapat dipahami sebagai sebuah rasa perhatian dan kasih sayang terhadap yang lain. Cinta adalah pancaran perdamaian, persahabatan, keakraban, kepedulian terhadap sesama. Dari pemahaman yang sederhana dan simplistis ini, cinta dapat dimasukkan dalam kerangka pembentukan peradaban yang manusiawi, peradaban yang menjamin hak untuk mencintai dan dicintai, memperhatikan dan diperhatikan, mempedulikan dan dipedulikan.

Semua agama pada dasarnya mengajarkan tentang cinta. Rgveda, Atharwaveda dan Yajurveda dalam Hindu serta Bible dalam Kristen banyak mengajarkan tentang pentingnya cinta terhadap sesama. Begitu juga dengan Budha dan Islam. Dalam sebuah Hadist disebutkan bahwa, ‘Tuhan tidak akan mencintai seseorang hingga ia mencintai tetangganya (orang lain/sesama) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’.

Proyeksi dari cinta bisa macam-macam. Seorang pecinta membahasakan cintanya terhadap kekasihnya dengan cara mengapeli, memperhatikan dan mempedulikannya. Guru membahasakan cinta terhadap murid-muridnya dengan bimbingan dan pendidikan tulusnya. Orangtua membahasakan rasa cintanya terhadap anak-anaknya dengan memperhatikan, melindungi, mencukupi kebutuhan, serta memikirkan masa depan sang anak. Sedang negara membahasakan cinta terhadap rakyatnya dengan pembangunan dan pelayanannya atas kebutuhan rakyat.

Kemudian apakah cinta yang begitu agung dan tulus itu sudah terjelma dalam kehidupan sehari-hari? Jawabnya adalah belum. Mengapa? Karena cinta yang selama ini ada masih diwarnai dengan naluri kepemilikan, pengaturan dan penguasaan. Dan itu tampaknya sudah dianggap wajar dan diterima begitu saja (taken for granted). Para pecinta masih banyak yang membatasi ruang gerak kekasihnya dengan berbagai alasan, yang ini bisa membunuh kreativitas serta produktivitas sang kekasih. Para guru masih banyak yang mendiskreditkan muridnya, karena keberanian sang murid dalam melontarkan kritik terhadapnya.

Dalam sistem keluarga, fenomena ini pun sering terjadi. Orangtua mengontrol anak-anaknya dengan begitu ketat dan menekan sang anak untuk mengikuti segala nasihat-nasihatnya, keinginannya, kemauannya, ambisi-ambisinya, tanpa memberi kebebasan kepada sang anak untuk memilih. Maka yang terjadi kemudian adalah tekanan psikologis yang membuat anak teralienasi dari dirinya dan dari apa yang dilakukannya.

Di sini terlihat bahwa pecinta, guru dan orangtua lebih mencintai dirinya sendiri daripada kekasih, murid dan anaknya. Dengan apa yang mereka lakukan, sebenarnya mereka ketakutan jika kuasa dan otoritasnya yang tertanam dalam diri orang-orang yang mereka cintai pudar.

Dalam sebuah sistem kekuasaan, naluri pengaturan dan penguasaan itu tampak semakin jelas. Bahkan jika kita melihat berbagai fakta yang ada, terlihat bahwa unsur kuasa lebih dominan dari unsur cinta. Kita bisa bercermin dengan negara kita sendiri. Negara, yang dalam perkembangannya diidentikkan dengan pemerintah, penguasa, state, memang boleh dikata telah memperhatikan nasib rakyatnya. Namun sayang, proyeksi dari rasa cinta negara itu seringkali tidak sebanding dengan rasa kuasa yang timbul.

Rakyat dikasih makan, tetapi tidak boleh menuntut lebih banyak. Tidak boleh ngomong terlalu banyak tentang ini dan itu, karena tidak sesuai dengan budaya sendiri, tidak boleh berbuat ini dan itu, karena bisa mengganggu stabilitas. Dengan alasan demi kepentingan dan kebaikan rakyat, negara mengatur, mengontrol, menguasai, bahkan menindas, yang semua itu tidak lain adalah proyeksi rasa cinta negara terhadap dirinya sendiri, terhadap kekuasaannya, terhadap status-quo.

Dari realitas di atas dapat ditarik satu kesimpulan bahwa cinta yang ada selama ini selalu berbalut erat dengan kuasa. Rasa cinta selalu dibarengi dengan penguasaan, pengaturan, yang justru bisa mengaburkan tentang adanya cinta. Cinta bukan lagi pengorbanan, tetapi tuntutan. Dan jika tuntutan tidak dipenuhi, seringkali terjadi kekerasan, baik kekerasan fisik maupun psikologis, yang sangat bertentangan dengan prinsip dasar cinta yang ramai, penuh kasih dan penuh keadamaian.

Cinta yang terbalut erat dengan kuasa dan dominasi itu oleh Erich Fromm disinyalir sebagai akibat dari pemahaman keliru tentang cinta. Selama ini, cinta dianggap sebagai sesuatu yang dapat dimiliki, yang darinya muncul naluri untuk mengatur dan menguasai. Cinta dalam masyarakat sekarang adalah cinta yang didasarkan pada modus memiliki (to have) dan bukan didasarkan pada modus menjadi (to be).

Yang ada dalam masyarakat sekarang adalah keinginan untuk memiliki cinta, bukannya keinginan untuk mencintai. Dengan modus ingin memiliki (to have) ini, cinta menjadi beku dan tidak membebaskan, karena ada yang menjadi subyek dan ada yang menjadi obyek, ada yang menguasai dan ada yang terkuasai.

Menurut Erich Fromm cinta harus mengandung unsur pembebasan dan pemerdekaan, bukan penguasaan apalagi penindasan. Untuk mewujudkan cinta yang membebaskan ini – Erich Fromm menyebutnya sebagai cinta produktif – harus memiliki elemen-elemen dasar yaitu: perlindungan, tanggung-jawab, penghormatan dan pengetahuan (Erich Fromm, Man for Himself, 1947).

Perlindungan dan tanggung-jawab menunjukkan bahwa cinta adalah sebuah aktivitas dan bukan sebuah nafsu yang olehnya orang terkuasai, dan bukan sebuah pengaruh (affect) yang mana orang terpengaruh olehnya. Dalam perlindungan dan tanggung jawab yang ada hanya kerelaan untuk berbuat dan berkorban, tanpa diwarnai tuntutan untuk diakui, diikuti, ditaati, apalagi ditakuti.

Orangtua yang mencintai anaknya berbuat untuk anaknya tanpa keinginan agar sang anak taat dan patuh kepadanya, mengakui otoritas dan kekuasaannya sebagai orangtua. Negara pun begitu. Negara yang mencintai rakyat adalah negara yang berbuat untuk rakyat, berkorban untuk rakyat, berbicara atas kepentingan rakyat, dan bukan negara yang selalu ingin dipatuhi dan ditakuti oleh rakyat dengan cara menetapkan berbagai peraturan yang tidak memerdekakan rakyat. Pencekalan, pembreidelan serta pelarangan untuk berpendapat dan berserikat adalah watak-watak yang melekat dalam sebuah negara yang tidak mencintai rakyatnya.

Perlindungan dan tanggung jawab adalah unsur pokok dari cinta. Dari situlah cinta dapat dinilai, apakah yang ada memang cinta atau hanya keinginan untuk memiliki dan menguasai. Namun cinta akan membusuk jika hanya didasari pada semangat perlindungan dan pertanggung-jawaban saja, tanpa dibarengi dengan dua unsur lainnya, yaitu penghormatan dan pengetahuan.

Dengan penghormatan, diharapkan cinta akan terbebas dari penguasaan, karena penghormatan menunjukkan pengakuan atas otonomi yang dicintai. Penghormatan diorientasikan untuk mengikis rasa kepemilikan dan penguasaan yang dapat muncul dari aktivitas perlindungan dan tanggung jawab. Ini tidak lepas dari kecenderungan masyarakat – apalagi lembaga kekuasaan – sekarang, yang merasa punya hak ketika sudah berkorban untuk orang lain.

Namun penghormatan akan buta jika tanpa pengetahuan atas yang dicintai. Di sini dituntut adanya sikap jujur dan realistis dalam menyikapi, menghormati dan melindungi yang dicintai. Dalam konteks kebangsaan, ini bisa dikaitkan dengan nasionalisme. Nasionalisme selama ini dipahami sebagai kecintaan dan pembelaan yang membabi-buta terhadap bangsa sendiri, tanpa kejujuran untuk bercermin-diri. Kemunculan nasionalisme yang membabi-buta ini tampak dari ada-nya ungkapan right or wrong is my country. Maka cukup beralasan jika Erich Fromm dalam The Sane Society-nya menyebut nasionalisme sebagai inzes zaman ini, berhala kita, ketidak-sehatan, yang dipuja lewat patriotisme. Patriotisme yang dimaksud Fromm adalah sikap meletakkan bangsa sendiri di atas kemanusiaan, di atas prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan.

Dari apa yang terungkap di atas, kita melihat bahwa elemen-elemen dasar dari cinta bisa menjadi dasar bagi terciptanya sebuah kekuasaan yang ramah, adil dan bertanggung jawab. Jika kita disuruh memilih antara kekuasaan yang berdasar cinta dan kekuasaan yang berdasar logika kuasa, maka tentu kita akan memilih yang pertama. Hanya orang-orang ‘gila’ saja yang akan memilih yang kedua.

Kekuasaan yang berdasar nilai-nilai cinta akan mampu mengayomi rakyat, memenuhi kebutuhan dan kepentingan rakyat. Sedang kekuasaan yang berdasarkan atas semangat naluri kuasa hanya akan menimbulkan kesenjangan, ketidak-adilan, sentralisasi kekuasaan untuk kepentingan golongan, partai, keluarga, bahkan individu.

Kekuasaan yang dibangun di atas semangat kuasa hanya akan menciptakan kekuasaan ala Fir’aun, yang tega membunuh anak-anak bangsanya demi kepentingan dan kelanjutan kekuasaannya. Politik yudzabbihuna abna’akum (menyembelih anak-anaknya sendiri), itulah yang akan terjadi.

Untuk menilai sebuah kekuasaan apakah ia dibangun di atas cinta atau kekuasaan, sebenarnya bisa dengan cara melihat sejauh mana kekuasaan itu dicintai oleh rakyatnya. Jika rakyat masih banyak yang menangis, berteriak, nggerundel dan mangkel, maka kita patut menyangsikan bahwa kekuasaan itu dibangun di atas prinsip cinta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Manusia dan Cinta Kasih

# Arti Cinta Kasih

Cinta kasih bersumber pada ungkapan perasaan yang didukung oleh unsur karsa, yang dapat berupa tingkah laku dan pertimbangan dengan akal yang menimbulkan tanggung jawab. Dalam cinta kasih tersimpul pula rasa kasih sayang dan kemesraan. Belas kasihan dan pengabdian. Cinta kasih yang disertai dengan tanggung jawab menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kedamaian antara sesama manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan.

Apabila dirumuskan secara sederhana, cinta ksih adalah perasaan kasih sayang, kemesraan, belas kasihan dan pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggung jawab. Tanggung jawab artinya akibat yang baik, positif, berguna, saling menguntungkan, menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kebahagiaan.



# Macam Cinta Kasih

Adanya beberapa macam cinta kasih, yaitu sebagai berikut :

a. Cinta kasih antar orang tua dan anak. Orang tua yang memperhatikan dan memenuhi kebutuhan anaknya, berarti mempunyai rasa cinta kasih terhadap anak. Mereka selalu mengharapkan agar anaknya menjadi orang baik dan berguna dikemudian hari.

b. Cinta kasih antara pria dan wanita. Seseorang pria menaruh perhatian terhadap seorang gadis dengan perilaku baik, lemah lembut, sopan, apalagi memberikan seuntai mawar merah, berarti ia menaruh cinta kasih terhadap gadis itu.

c. Cinta kasih antara sesama manusia. Apabila seorang sahabat berkunjung ke rumah kawannya yang sedang sakit dan membawa obat kepadanya berarti bahwa sahabat itu menaruh cinta kasih terhadap kawannya yang sakit itu.

d. Cinta kasih antara manusia dan Tuhan. Apabila seorang taat beribadah, menurut perintah Tuhan, dan menjauhi larangan-Nya, orang itu mempunyai cinta kasih kepada Tuhan penciptanya.

e. Cinta kasih manusia terhadap lingkungannya. Apabila seseorang menciptakan taman yang indah, memelihara taman pekarangan, tidak menebang kayu di hutan seenaknya, menanam tanah gundul dengan teratur, tidak berburu hewan secara semena-mena atau dikatakan bahwa orang itu menaruh cinta kasih atau menyayangi lingkungan hidupnya.

Demikianlah, berbagai contoh perilaku manusia yang melukiskan cinta kasih sebagai kebutuhan kodrati manusia.



# Ungkapan Cinta Kasih

Cinta kasih adalah ungkapan perasaan yang diwujudkan dengan tingkah laku, seperti dengan kata-kata, tulisan, gerak, atau media lainnya. Ungkapan dengan kata-kata atau pernyataan, misalnya ungkapan. Aku cinta padamu. Ungkapan dengan tulisan, misalnya surat cinta, surat ibu kepada putrinya. Ungkapan dengan gerak, misalnya salaman, pelukan, ciuman dan rangkulan. Ungkapan dengan media, misalnya setangkai bunga, benda suvenir dan benda kado. Ungkapan-ungkapan ini selain dalam bentuk nyata, juga dalam bentuk karya budaya. Misalnya seni suara, seni sastra, seni drama, film, dan seni lukis.

Orang yang mempunyai perasaan cinta kasih, hidupnya penuh gairah, banyak inisiatif, dan penuh kreatif. Bagi seniman perilaku cinta kasih dituangkan dalam bentuk karya budaya sehingga dapat dinikmati pula oleh masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat memetik nilai-nilai kemanusiaan yang terungkap melalui karya budaya itu.

Cinta kepada sesama adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam Menurut Erich Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:
1. Knowledge (pengenalan)
2. Responsibilty (tanggung jawab)
3. Care (perhatian)
4. Respect (saling menghormati)
Cinta berada di seluruh semua kebudayaan manusia. Oleh karena perbedaan kebudayaan ini, maka pendefinisian dari cinta pun sulit ditetapkan..
skPara pakar telah mendefinisikan dan memilah-milah istilah ini yang pengertiannya sangat rumit. Antara lain mereka membedakan cinta terhadap sesama manusia dan yang terkait dengannya menkadi:
1. Cinta terhadap keluarga
2. Cinta terhadap teman-teman, atau philia
3. Cinta yang romantis atau juga disebut asmara
4. Cinta yang hanya merupakan hawa nafsu atau cinta eros
5. Cinta sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
6. Cinta dirinya sendiri, yang disebut narsisme
7. Cinta akan sebuah konsep tertentu
8. Cinta akan negaranya atau patriotisme
9. Cinta akan bangsa atau nasionalisme
Cinta antar pribadi manusia menunjuk kepada cinta antara manusia mempunyai beberapa undur yang sering ada dalam cinta antar pribadi tersebut yaitu
Afeksi: menghargai orang lain
Ikatan: memuaskan kebutuhan emosi dasar
Altruisme: perhatian non-egois kepada orang lain
Reciprocation: cinta yang saling menguntungkan
Commitment: keinginan untuk mengabadikan cinta
Keintiman emosional: berbagia emosi dan rasa
Kinship: ikatan keluarga
Passion: nafsu seksual
Physical intimacy: berbagi kehidupan erat satu sama lain
Self-interest: cinta yang mengharapkan imbalan pribadi
Service: keinginan untuk membantu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

CITA DAN CINTA

Kurang kontrol
Sebagai makhluk sosial, berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama manusia merupakan ‘kewajiban’. Intinya, sih, ada kebutuhan untuk berbagi cerita, pengetahuan, perasaan, dan keinginan. Namun sering kali keinginan untuk berbagi cerita ini tidak selalu pada tempat dan waktu yang tepat.

“Saat bekerja, harusnya kita bisa fokus menyelesaikan pekerjaan dulu, baru kalau ada waktu senggang berbagi cerita non-pekerjaan. Tetapi ada orang yang nggak tahan untuk menunggu waktu yang tepat, sehingga dia akan memulai cerita duluan,” jelas psikolog Naomi Soetikno, M.Pd; Psi., dari Omni Medical Center Hospital Pulomas.

Hanya karena kurangnya pengendalian diri, dia akan mudah bercerita kapan saja. Nggak hanya lupa waktu dan tempat, area pembicaraan jadi nggak fokus dan meluas ke mana-mana, dan itulah yang berkembang jadi gosip.

“Tadinya mungkin kita cerita tentang keadaan di rumah, tapi karena sudah nggak fokus, sebentar cerita tentang keadaan di rumah, lalu lanjut cerita soal bos, teman, rekan kerja…. Inilah yang disebut gosip,” kata Naomi.

Ubah, dong!
Nggak ada kata terlambat kalau kita mau mengubah image dari Miss Gossip Abis ke Miss Gossip Manis. Lagipula, siapa, sih, yang bakal tahan jadi musuh publik terus-menerus? Modalnya gampang banget, kok: nggak defensif dan mau ngikutin saran dari Naomi, nih:

1.Lebih fokus pada satu masalah. Jika belum ada konfirmasi dari orang yang bersangkutan, kita harus ‘menguatkan diri’ untuk berhenti membahasnya.

2.Tumbuhkan perasaan dan empati. Bayangkan kalau kita menjadi subjek gosip. Nggak enak banget, kan, kalau ada orang yang ngomongin di belakang kita?

3.Berdasar pengalaman tadi, kita kudu mau belajar mengerem mulut kita. Ini menjadi sulit jika kita nggak punya banyak aktivitas. Sibukkan diri pada kegiatan yang lebih positif dan kreatif, seperti gabung di organisasi pencinta lingkungan atau kursus yoga agar pikiran kita teralihkan dari bergosip.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ciuman Yang bermanfaat

Ciuman Bermanfaat, mau donk….!

Saat lagi browsing nyari data komitmen hubungan berpacaran, saya menemukan artikel dari kompas, judulnya ‘berciuman juga banyak manfaatnya’. Nah bagi pembaca yang ingin membaca artikel tersebut saya copy-paste di Blog Dunia Psikologi tentunya tetap menyertakan sumber tulisannya. Anda boleh percaya atau tidak dengan isi artikel tersebut, silahkan…
gaya-ciuman-tersexy.jpgSelain menularkan beberapa jenis virus, kuman, dan parasit, dari riset terungkap, berciuman menyimpan banyak manfaat. Bahwa berciuman bisa mengungkit sistem kekebalan tubuh akibat saling berbagi bibit penyakit ke dalam rongga mulut, tubuh dikebalkan (mirip mekanisme vaksinasi) oleh bibit penyakit yang sebelumnya tidak dipunyai (Helen Fisher, PhD, anthropolog periset romantic love Rutgers University, Newark, NJ). Berciuman juga dinilai sebagai ajang meditasi (sensual meditation) yang memberi ketenangan pada otak (Joy Davidson, PhD, psikolog pada Klinik Sexology, Seatle).
Pada ciuman Perancis (french kiss, pen), ciuman yang luar biasa dalam, melibatkan hampir seluruh otot wajah untuk ber-exercise, sehingga wajah tampak lebih muda dan sumringah. Selain itu sentuhan ujung lidah yang sampai menyelusupi seluruh bagian gusi dan gigi geligi selama berciuman Perancis merupakan sapu pembersih kuman dan bibit penyakit dengan air liur ekstra, berfungsi mencegah pembentukan karang gigi (oral plaque), seperti diungkapkan Mathew Massina, DDS, dokter gigi Fairview Park, Ohio.
Lebih dari itu, berciuman juga katanya dapat menurunkan berat badan, sebab mampu membakar kalori dua kali lipat lebih banyak dari metabolisme normal (Bryant Stamford, PhD, Universitas Louisville). Bahkan jika berciuman berkategori sangat hot, sama besar dengan kalori yang terbuang untuk berjalan tergopoh-gopoh (brisk walking).
Tapi jangan lupa, di balik sederet manfaat itu, berciuman juga bisa menularkan penyakit gigi keropos (Journal of The American Dental Association). Kita tahu bahwa pengeroposan gigi terjadi sebab ada kuman tertentu di rongga mulut yang bersama karbohidrat dari sisa makanan yang terselip di sela gigi akan menghasilkan senyawa asam. Senyawa asam ini yang merusak permukaan enamel gigi, sehingga berangsur-angsur gigi mulai keropos. Kuman pengeropos gigi ini rupanya ditularkan juga sewaktu berciuman.
Pada tataran yang lebih jauh, berciuman mempunyai banyak makna. Ciuman bernafsu birahi menghasilkan senyawa hormon yang berbeda dengan ciuman romantik, atau ciuman persahabatan. Umumnya berciuman itu berkhasiat menenangkan akibat dikeluarkannya calming hormone bernama oxytocin dalam darah. Hormon ini konon deras mengalir dalam darah selama orang jatuh cinta.
Hormon seks testosteron meningkat dalam darah sewaktu seks bergairah, baik pada pria maupun wanita (wanita pun memproduksi hormon ini dalam takaran yang lebih kecil dari pria). Pada situasi romantik, ada hormon lain, yakni dopamine dan norepinephrine yang membanjir dalam darah. Pada tahapan memasuki cinta sejati, hormon oxytocin dan vasopressin yang deras memasuki darah, pada saat mana orang berada di tingkat puncak perasaan tenang damai sejahtera.
Ciuman merangsang otak. Otak memiliki terminal-terminal penangkap sensasi bibir sama pekanya dengan yang diterimanya dari area erogen lain pada tubuh, seperti dari puting susu, lalu menerjemahkannya ke dalam bentuk rasa bergembira (euphoria), penggugah seks, dan memberi puncak perasaan tenang sejahtera yang paling dalam.
Pesan para pakar, jangan karena tahu berciuman bisa menjadi penurun berat badan, lalu menjadikan berciuman sebagai tujuan program menurunkan berat badan pribadi, sehingga membuat kita jadi rajin mencium. Cium asal mencium tentu berbeda makna dan sensasinya. Misal kalau yang dicium bibir kakek-kakek atau nenek-nenek, alih-alih bikin badan jadi kurus. Rajin kissing dengan pasangan tanpa gigi geligi sempurna lagi bisa jadi malah bikin kita pegal linu dan masuk angin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS